tempat itu

Disudut ruang itu
Duamata menatapku haru
Berkaca derai air mata
Penuh dengan suka cita

Kulihat keriput kulitnya
Membungkus usia tersisa
Pesona penampilan
Sudah tak lagi berkesan

Nenek yang selalu kucinta
Tampil warna budaya
Keelokan pesona
Menghadirkan indah jiwa

Meski nyata kecil sayang
Yang pernah terungkap
Namun ungkap sayang dalam hati
Tak pernah bersyarat hingga kini


Ruang itu selalu saja mengingatkanku. Menyadarkanku akan semua peristiwa lalu. Meski kini tatananmu telah berganti. Menyusun diri membungkus yang lalu dan membuka pesona hunian baru. Namun kesunyian dan ketakteraturannya masih saja mengiang jelas dalam pikiran. Bagaimana dahulu almari itu menatapku saat aku tak pernah berhenti berlalu lalang. Gambar poster boy band 5566 yang masih terpampang jelas di depan kotak di atas rak berderet dengan ranjang berhias. Begitupun saat kau terbaring diatas kasur itu.

#
Meski fisik berujud lemah tetapi senyuman itu tak pernah sesekalipun menunjukkan kelemahan itu. Senyum optimis. Senyum penuh dengan harapan dan kebahagiaan. Kursi itu pun juga tak pernah beranjak pergi. Ia tak pernah selingkuh walau sedetikpun. Wajahnya selalu terpaku tenang menemani disamping posisi kasur itu. Juga dengan segala bantal dan guling yang juga ikut setia menemani dalam hari senjanya.



Tak bisa dipungkiri jika usia manusia selalu bertambah. Sejenak proses membawa sejuta pelajaran tentang makna hidup yang sebenarnya. Aku memang tak mengerti. Karena hidup yang telah kujalani pun tidak seluruhnya kulewati dengannya. Sebentar dan hanya sekejab kurasakan. Tetapi kasih sayangnya begitu dalam dan panjang kurasa.

Berseliweran sapa, canda, dan tawa dari cucumu selalu menjadi teman setia. Saat kerabat ikut berkunjung meski barang sejenak. Disana kulihat dengan jelas kebahagiaan tersendiri mewarnai senja raut mukamu. Nenek yang selalu kurindu.

#
Saat itu. Saat kau terbaring lemah dengan sakit tua yang mendera. Meski membuat repot keluarga. Tetapi semuanya berlandaskan tulus rasa sayang. Berdasarkan hati penuh ikhlas. Berhiaskan jiwa penuh sabar.

Mengeluh ataupun kejengkelan kecil-kecil dari ibu membuatku menyadari. Karena hanya sosok ibu yang ditengah kesibukannya, bekerja, merawat anak, mengurus rumah masih sedia ikhlas merawat nenek yang selama ini selalu menemani proses kehidupannya. Bahkan ketika aku menghantarkan beberapa kue buatan ibu. Ku masih ingat apa yang telah kau lontarkan saat itu. “tetangga sudah dikasih apa belum?” mendengarnya, aku terperangah. Disisi lain aku memang sempat terusik dengan perkataan nenek yang begitu memperhatikan tetangga yang berada disamping kiri rumah tepatnya. Kenapa? “Untuk apa memberi perhatian kepada tetangga yang selalu saja tak pernah bersikap baik dengan kita. Yang selalu memberikan sesuatu jika telah dianggap basi. Hanya untuk alasan mubadzir. Itukah? Padahal setahuku ibu selalu membagikan makanan terbaik untuk mereka. Bahkan saat ibu dulu sering membuat roti. Selalu saja ia berikan hasil terbaiknya.
Saat itu. Masih ingat dengan jelas nasihat ibu ditelingaku. “Kasihlah seseorang dengan terbaik pada apa yang kau miliki.” Setidaknya, minimal adalah sesuatu yang kau sukai”. Dan jangan sekali-kali kau memberikan sesuatu yang tak kau sukai kepada oranglain.”

Nasihat itu masih tersimpan dengan jelas. Sebagai salah satu panutan sikap. Namun begitu heran dan tak menyangka saja terhadap semua perilaku tetangga.

Tahulah ia tentang agama
Dalam landasan hidup
Sering kulihat dia
Berbondong-bondong dalam masjid

Berturutserta mengaji
Kesana kesini
Namun kini saat ia teruji
Dalam semua pesan Ilahi

Semua bukanlah sejati
Bukan pula berdasar hati

Apa sebenarnya yang masuk ketika sebuah ngaji ia hayati?
Benarkah hanya sebatas menunaikan kewajiban belaka?
Benarkah hanya masuk telinga kiri, keluar telinga kanan?
Atau bahkan belum masuk sama sekali kedalam telinga?
Hingga tak sempat ia keluar lagi ke telinga kanan?
Oohh hanya Tuhan yang mengerti

Meski dengan kondisi sakit, lemah serta tak berdaya. Sikapnya masih saja perhatian dengan sesama. Meski mereka sering menyakiti, tapi hati nenek telah menjadi intan yang tak pudar dalam perlakuan yang tak sebanding. Begitupun dengan ibu.

#
Saat aku melihat dengan sabar ibu mengusap, membersihkan kotoran nenek yang tertinggal di kasur. Menceboki bagian yang kotor. Menyuapinya. Menggantikan baju dengan penuh ketelatenan. Entah kenapa, air mata yang telah kusimpan rapat setetes demi setetes mengalir. Bahkan semakin deras. Kusembunyikan air mata ini. Kubiarkan ia meleleh ditempat lain yang tak ada seorang pun melihat. Tapi masih. Masih di tempat itu. Tempat tersimpan dengan beragam kisah.

Kasur yang semakin lama semakin mengeras. Semakin kering karena tertahan dengan badan nenek yang selalu terentang disana. Rasa empuk pun telah sirna. Bantal guling pun mulai terlihat kotor dan kusam. Juga dengan selimut yang selalu menyelimuti badan nenek. Berkali-kali. Sungguh berkali-kali diganti. Bahkan ibu telah menghabiskan banyak selendang sebagai tumpukan untuk menutupi badan nenek saat sedang buang air besar disana.

Bahkan saat pispot terlihat penuh dengan air kecil nenek, ibu senantiasa membuangnya. Aku selalu diam terpaku. Terkadang keikutsertaan ku hanya saat nenek tiba-tiba sedang jatuh. Aku dan hanya ibu yang kebetulan berada di rumah saja kewalahan mengangkat badan nenek untuk diangkat ditempat sisi seberang. Begitupula saat malam hari menghadang, aku ikut mendengarkan beragam cerita aneh yang dituturkan. Tersenyum dengan hati yang sebenarnya ingin menangis.

Berikut dua tahun sudah nenek menjalani ini semua. Tak hanya ibu yang senantiasa dengan segala ketulusan, kerelaan merawat nenek dengan sepenuh hati. Adik-adik dan aku terkadang ikut berperan serta merawat, meski memang tak sebanyak apa yang telah dilakukan oleh ibu. Ditempat itu. Tempat yang selalu kurindu dalam tabir kehidupan yang telah berlalu.
0 Responses