|
Telah kubiarkan hatiku pergiMelayang menghampiri mentari
Nun jauh kusirnakan
Nun dalam terlenakan
Begitu sepi saat kau pergi
Begitu sunyi menghantui
Oh mentari terangi elokmu untukku
Dalam kisah ku
Entah kapan aku bisa menangkap
Sinarmu dalam hatiku
Entah esok
Masih kubiarkan angin sedu menjagamu
Memelihara dalam belaian
Telah berlalu hari yang lalu. Dalam semua kesunyian menebar aroma di setiap sudut ruangan. Meja, almari, kursi, cermin, serta buku pendampingku terpaku selama ini. Melihat semua resah akan kegelisahan dalam kabut. Awan mendung mulai bergelayutan. Entah kini ataupun nanti. Tak mau nian ia beranjak pergi. Ku hanya seoggok hati. Gelap dan sunyi meliputi.
Bintang, masihkah kau bersinar dalam temaram sinar langkah yang kutemui. Memanduku dalam cerita hidup yang akan kurangkai. Telah lama dan peluh telah terurai dalam mengumpulkan berbagai keping susunan mozaik yang tercecer. Satu demi satu kurangkai. Tahap demi tahap ku lewati. Berharap semua mampu terkumpul menjadi suatu mozaik yang indah, dan tetap bersinar dalam proses kehidupan yang berjalan.
Aku ingin pergi keluar. Melihat dunia ini bersinar menyinari kegamangan hati. Kesunyian misteri kehidupan.
#
Deru suara kereta api bergemuruh dalam sisi langkah kaki ku yang berjalan. Begitu keras dan hati ikut terhentam. Klakson-klakson kendaraan pun mulai bersautan mengiring sang kereta api pergi. Pertanda masih begitu banyak rupa manusia yang memang tak pernah tahan mencapai titik kesabaran. Tetapi hati ku tetap sabar dalam mencapai mentari ku yang bersinar.
Langkah itu berat, tetapi juga langkah pasti. Langkah sabar. Langkah ikhlas terhadap semua pelik kehdupan. Kini bukan waktu untuk memikirkan yang telah lampau. Tapi pikiran ini terus saja mengingatnya. Berbagai peristiwa terkadang mengingatkan. Terkadang pula melupakan. Namun hati masih saja tetap tertahan. Mungkinkah hati ini bisa pergi? Sejenak melepas segala misteri. Melupakan semua. Menanggalkan segala perihal.
Aku tahu dan sadar bahwa sesuatu hal yang telah terjadi dan terangkai memang telah berjalan sebagaimana mestinya. Ia bukanlah perihal yang harus terbantahkan. Bukan pula hal yang harus disesali keberadannya. Tetapi sesungguhnya ialah perihal yang lebih untuk kita syukuri. Kehidupan ini tentu membawa segudang arti untuk kita pelajari dalam setiap misteri. Guru dalam setiap tindakan. Penuntun dalam semua perihal. Dalam seruan alam itulah aku belajar banyak hal.
Baik lewat semua penciptannya maupun dalam sesuatu yang diciptakan oleh insan manusia. Dari semua itulah terlantunkan berita akan pelajaran hidup disana. Meski begitu, dalam derap langkah kali terus berjalan, rasa aneh tiba-tiba membuncah. Angin melantunkan iramanya kembali berdesir. Daun-daun yang mulai bergoyang, berirama dengan sang angin, melengkapi kehadiran semua.
Suara celoteh anak dengan bisingnya, keragaman cerita oleh insan yang berkumpul bersorak sorai bergerombol dipinggir rel. Begitupula dengan sekelompok ibu-ibu berkumpul ria asyik dengan celoteh guncingannya. Namun keriuhan itu tak membuat hatiku tersenyum. Tetapi malah terpental dari keriuhan dan ingar bingar keadaan lingkungan.
Jejak langkah yang kutinggalkan kini telah membekas. Bersama itu kutinggalkan pula lembaran-lembaran hatiku yang kelam. Serpihan demi serpihan kini telah kubiarkan ia pergi bersama jejak diri. Meski sulit. Meski berat. Tertatih hati tuk melangkah menuju cerah. Bersama dengan membuang senyap sedih luka dan kelam warna.
Saat semua akan sirna, tertinggal dalam jejakku. Ku mulai bisa tersenyum. Pintu hatiku kembali terbuka. Lebar dengan segala ruang. Kosong benar tak berpenghuni. Kini aku akan mengisi dengan goresan warna indah. Pelangi yang selalu bersinar menepaki hidupku. Kan kuraih sinar sang mentari. Kan kujaga hati demi diriku dan demi sinar mentari, harapanku.
Sendu awan bergelayut di langit
Meski lalu ku terbenam dalam kelam
Kubiarkan kini ia pergi
Jauh serta sunyi
Pohon tak menyangka
Burung pun tak mengira
Semua hal kini bukan pura-pura
Tetapi nyata benar fakta
Kepulihan jiwa
Di sudut lorong sana
Ialah hati yang terlahir
Ialah hati bersih
Putih tak ternoda
Di bilikku ini
Ku hadirkan kembali
Semua warna hidup berhiaskan pelangi
Akan kutunggu
Penuh sabar
Dengan ikhlas
Serta kekuatan
Sang mentariku
Impianku
Meniti dalam setiap jalan
Kehidupan nanti
Tampomas, 27 Agustus 2010
15.49


